Pegawai Dinas Kesehatan Banten, di laporkan FP yang mencari keadilan Ke P2TP2A Pemprov Banten

1

Pegawai Dinas Kesehatan Banten, di laporkan FP yang mencari keadilan Ke P2TP2A Pemprov Banten

PaparazyNews.NET – Merasa ditipu dan dicemarkan nama baik keluarganya, wanita berinisial FP (25) mendatangi Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Banten, Senin (30/05) pagi menjelang siang, untuk melaporkan Pria berinisial TMF (30), yang merupakan salah satu Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

Dengan Didampingi Tim Kuasa Hukumnya, FP hendak melaporkan TMF kepada Unit PPA atas dasar, ‘perbuatan melawan hukum dengan pencemaran nama baik dan penipuan’ yang sudah dilakukan TMF kepada FP dan keluarganya.

Selaku Tim Kuasa Hukum FP, Yahya Heriansyah menyampaikan, bahwa Kliennya merasa ditipu dan dicemarkan nama baik keluarganya oleh TMF, yang telah berjanji akan menikahi FP pada bulan Maret 2016 beberapa bulan lalu.

Karena berdasarkan informasi yang terhimpun dan dirilis, Tim Kuasa Hukum FP, yang telah dikutip Tabloid Tipikor, memang diketahui TMF sudah melakukan musyawarah mufakat kepada pihak keluarga FP, yang membuahkan hasil kesepakatan bersama antara kedua belah pihak, pada Bulan September 2015 untuk menentukan jadwal tanggal dan hari pernikahan, akan tetapi, tanpa memberikan informasi dan pembatalan pernikahan, TMF diketahui melaksanakan pernikahan dengan perempuan lain yang belakangan diketahui adalah teman kantornya.

” Yang dilakukan oleh TMF sangat memalukan keluarga besar klien saya FP. Karena pihak keluarga merasa ditipu dan dicemarkan nama baiknya, ” kata salah satu kuasa hukum FP, Yahya Heriansyah.

Lebih lanjut, Yahya Heriansyah selaku kuasa hukum FP menerangkan, bahwa apapun alasannya sebagai orang yang berpendidikan dan memiliki Etika, harusnya TMF menginformasikan mengenai pembatalan pernikahannya dengan klien saya FP.

” Seharusnya TMF, ataupun keluarganya datang secara baik – baik menyampaikan pembatalan pernikahan dari jauh – jauh hari. Jangan setelah keluarga besar menggelar acara kumpul keluarga bahkan membuat konsep undangan untuk disebarkan, TMF lantas menikah dengan perempuan lain tanpa memberikan alasan apapun,” ungkap Yahya Heriansyah.

Kedatangan FP dan Tim Kuasa Hukumnya ke Polda Banten, atas dasar rujukan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten.

Menurut Wakil ketua P2TP2A Provinsi Banten, Yayah Rukhiyah ,S.Pd ,M.Pd mengatakan, bahwa benar P2TP2A telah mendapatkan pengaduan dari perempuan berinisial FP (25) yang didampingi oleh kuasa hukumnya untuk mengadukan oknum PNS berinisial TMF (30) Pegawai Negeri Sipil Dinas Kesehatan Provinsi Banten.

” Memang benar hari ini, Senin (30/5), kami mendapatkan pengaduan dari keluarga FP, mereka mengadukan TMF yang menurut pengakuan keluarga merasa dibohongi dan dicemarkan nama baiknya sehingga akibat perbuatan TMF kepada FP (korban), saat ini depresi akibat malu sudah menyampaikan kabar gembira mengenai pernikahannya, akan tetapi setelah semua persiapan hampir selesai, TMF malah menikahi perempuan lain tanpa memberikan alasan dan pemberitahuan kepada FP dan keluarganyaā€¯, ucap Yayah Rukhiyah.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan oleh FP, dalam berkas pengaduan di dokumen P2TP2A. Awalnya perkenalan FP dengan TMF bermula di kegiatan Pertihusada pada bulan Mei 2015, setelah itu keduanya terus berkomunikasi dan berhubungan (pacaran) sampai akhirnya pada 4 Oktober 2015, TMF dan keluarganya melakukan prosesi lamaran (Tunangan) dengan disaksikan oleh kedua keluarga besar mereka, dan pada saat prosesi lamaran itu pula ditentukan bahwa mereka akan menggelar resepsi pernikahan pada Bulan Maret 2016, seiring berjalannya waktu keduanya sudah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan pernikahan mulai dari mahar sampai keduanya membuat tabungan bersama untuk anggaran nikah.

Pada bulan Maret 2016, TMF yang sebelumnya mengaku sudah berstatus duda, menghubungi FP via telepon meminta bahwa pernikahannya diundur menjadi bulan September, karena dirinya masih harus mengurus sidang perceraiannya di Pengadilan Agama Bandung, Jawa Barat.

Tanpa menaruh curiga, bahwa TMF sebenarnya membohongi dirinya, FP lantas memberikan uang dan mahar yang sudah mereka kumpulkan kepada TMF, bahkan meminta uang tambahan kepada Orang Tuanya, agar bersedia memberikan pinjaman kepada TMF, karena TMF mengaku semua yang nanti diterima TMF akan dipakai untuk usaha supaya uangnya bisa bertambah dari hasil usaha yang dijalankan TMF.

Setelah uang dan mahar tersebut telah diberikan, TMF menyampaikan ke FP bahwa mengenai persiapan pernikahan untuk mencetak undangan pernikahan dan persiapan lainnya, agar segera disiapkan dan dikomunikasikan kepada keluarga besar FP.

Mendengar hal tersebut, tanpa ragu FP menyampaikan kepada keluarga besarnya dan tokoh masyarakat dikampungnya bahwa pernikahan akan digelar bulan september 2016. Nasib Naas untuk FP ternyata pada 16 Mei 2016, TMF justru menggelar resepsi dan akad nikah dengan perempuan lain di Tasikmalaya.

Menurut Yayah Rukhiyah, yang baru pertama kali mendapat pengaduan perkara seperti ini, mengaku jijik dan sangat kecewa terhadap kelakuan TMF atas perbuatannya yang memalukan tersebut.

” Sebagai PNS seharusnya dia (TMF) memiliki etika dan nurani yang mencerminkan orang berpendidikan, jangan malah membohongi perempuan semaunya dia,” tegasnya.

Bahwa pihaknya, lanjut Yayah menambahkan, akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Banten, Gubernur Banten dan instansi atau institusi lain terkait pengaduan FP dan keluarganya.

” Kami akan berkoordinasi dengan instansi dan institusi terkait, kalau perlu sampai ke Gubernur Banten, supaya PNS seperti itu mendapatkan sanksi yang sangat berat,” tandasnya Yayah seraya membela FP sebagai Kaum hawa.

Ditempat terpisah, UM (50) Orang Tua FP mengatakan bahwa akibat perbuatan TMF, keluarganya mengaku malu karena merasa dibohongi oleh TMF dan keluarganya.

” Bukan masalah uang, ini masalahnya harga diri, kalau yang bersangkutan memang mau membatalkan pernikahan kan bisa datang secara baik – baik, seperti saat mereka melakukan prosesi lamaran,” ujarnya orangtua FP.

Tim Kuasa Hukum FP yang lain, Erizon menyampaikan, bahwa Pihaknya dalam waktu dekat ini akan segera melaporkan TMF secara resmi kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Banten.

Bagi Erizon, Pihaknya berharap secara Kedinasan, atas perlakuannya TMF, diberikan sanksi sesuai dengan perbuatannya.

” Ini merusak pencitraan Pegawai Negeri Sipil, untuk menjadi PNS harus manusianya yang berpendidikan dan ber-etika tinggi, jangan karena merasa dirinya PNS dengan mudah memperdayai, menipu dan membohongi perempuan semaunya mereka,” tegasnya.

Serang, 08 Juni 2016
Penulis: Dede.Setiawan
Sumber: Tabloid Tipikor

Facebook Comments