Oknum Pelajar Kota Tangerang Gadaikan Keperawanan Via Online ?

0
1374

aplikasi internet yang menawarkan kemudahan untuk berkomunikasi, serta lemahnya pengawasan orang tua terhadap anaknya, berdampak buruk bagi kehidupan remaja.

dari penulusuran penulis, penyalahgunaan aplikasi yang tersedia di smart phone itu banyak digunakan oleh anak baru gede (ABG) yang berstatus pelajar. Mirisnya itu digunakan untuk menawarkan jasa prostitusi online atau biasa disebut “open booking” (BO).

Salah seorang pelajar yang terang terangan membuka praktik prostitusi ‘online’ pengguna aplikasi ‘wechat’ dengan akun Maria Marcella, yang berhasil ditemui, Rabu (27/9/ 2017), mengaku terpaksa membuka jasa sex online untuk membayar kosan yang sudah dua bulan nunggak. Dalam statusnya, ia menulis “BO sekarang!! PC urgent.” Ia mengaku, dari status itu, dalam satu hari banyak pria hidung belang yang merespon dan bermaksud ingin ‘membooking’ dirinya. Namun dari sekian banyak pria yang merespon tersebut, tidak semua menemuninya. Karena untuk satu kali main ia mematok tarif fantastis hingga Rp5 juta. Harga tersebut dipatok untuk alasan keperawanan. Pasalnya pelajar yang masih mengunakan baju seragam sekolah itu mengaku belum pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya.

“Ini terpaksa aja, karena terbentur kebutuhan ekonomi. Sudah dua bulan belum bayar kos,” ujar gadis blasteran Cina-Palembang itu.

Gadis yang tinggal nge-kos di daerah Kelurahan Sangiang, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang ini juga mengaku, membuka praktik prostitusi ‘online’ karena ingin mengikuti jejak saudara sepupunya berinisial R alias O, yang juga melakukan hal yang sama. Kata pemilik akun Maria Marcella, saudara sepupunya tersebut telah pisah ranjang dengan suaminya, dan untuk memenuhi kebutuhan hidup dia dengan anaknya, terpaksa melayani pria hidung belang sambil mencari-cari lowongan kerja.

“Pokoknya dia (RN alias Ocha) yang begini aja, tau-tau keluar pulang bawa uang. Tapi k kalau di ‘wechat’ itu kadang-kadang ada yang beneran mau BO, tapi juga ada yang cuma curhat doang,” kata gadis yang mengaku ‘broken home’ karena ditinggal cerai kedua orang tuanya tersebut.

Lain lagi, (VS) pelajar pindahan dari Kepulauan Batam yang saat ini meneruskan sekolah di salah satu sekolah SMK jurusan keperawatan di wilayah Kecamatan Periuk, Kota Tangerang menceritakan pengalamannya. Menurut dia dunia prostitusi remaja (ABG) ini tidak hanya terjadi di Kota Tangerang, tapi juga marak di Batam.

Selain mengaku sebagai pelaku penjaja sex online, (VS) juga mengaku sebagai perantara. Rata-rata, problem mereka sama, karena terbentur masalah keuangan. Hingga saat ini, kata (VS), ia juga masih sering menerima pesanan dan mengendalikan praktik prostitusi online dari tempat dia nge-kos. Untuk mengunakan jasa esek esek itu, dia cukup memberikan nomor telepon saja.

“Kalau di Tangerang ini belum ada apa-apanya. Meskipun gue enggak begitu lagi, tapi gue sering jadi perantara, sampai sekarang juga masih. Tapi lewat nomor telpon aja, jadi enggak ketemu langsung,” pungkasnya menceritakan.(forwat/tono)

Facebook Comments
torabika