Mengapa Banyak Wanita Masuk Neraka Karena Lisannya

12
Mengapa Banyak Wanita Masuk Neraka Karena Lisannya


PaparazyNews.NET – Jangan Pernah merasa aman dan yakin di dunia, apalagi di akhirat, karena merasa sudah rajin sholat, mengaji dan berpuasa jika kalau tak mampu menjaga lisan. Maksudnya?

Sahabat nabi, Abu Hurairah r.a pernah menyampaikan, ada yang menanyakan kepada Rosulullah SAW begini, ” Wahai Rosulullah, sesungguhnya si Fulanah suka sholat malam, shoum di siang hari, mengerjakan (berbagai kebaikan) dan bersedekah, hanya saja ia suka mengganggu para tetangganya dengan lisannya? “

Dijawab oleh beliau, baginda nabi besar Muhammad Rosullah SAW berkata, ” Tiada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Nah Mereka pun bertanya lagi, kepada Baginda nabi, ” Sesungguhnya si Fulanah (yang lain) mengerjakan (hanya) sholat wajib dan bersedekah dengan sepotong keju, namun tidak pernah mengganggu seorangpun? “.

Bersabda lah Baginda Rosulullah, ” Dia termasuk penghuni surga ”. [HR.Al-Bukhari]

Berarti soal menjaga lisan ini bukan perkara kecil bukan? Amat menentukan nasib seorang hamba di dunia, terlebih – lebih di akhirat kelak. Intinya Ibadah vertikal seseorang juga harus di Implementasikan dengan ibadah horizontal dia kepada sesama. Terutama saudara terdekat, seperti tetangga dengan menjaga lisannya.

Urusan lisan buat perempuan memang bukan perkara gampang. Banyak yang mengatakan memang dari ‘sono’nya, perempuan dilahirkan sebagai sosok cerewet dan banyak omong. Betulkah?

Sebenarnya nggak 100% valid, tapi setidaknya kalau ada penyebutan ‘perempuan’ secara khusus oleh Allah SWT dalam kaitannya menjaga lisan, itu tandanya para wanita harus lebih berhati – hati.

Dalam Surat Al-Hujurat ayat 11 disebut jelas, “…dan janganlah perempuan – perempuan (mengolok-ngolok) perempuan lain, karena boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok – ngolok)”.

Dengan adanya peringatan Allah ini, pertanda bahwa siapa saja khususnya perempuan, harus benar – benar menjaga lisannya dengan baik. Karena ada istilah mengatakan lidah lebih tajam daripada pedang. Pukulan hanya membekas di badan barang sebentar, tapi omongan bisa terpendam di hati hingga terbawa mati. Serem kan?

Tahukah apa saja petaka lisan yang bisa menjauhkan wanita dari surga?

Mencibir atau mengolok – ngolok. Ini masuk petaka besar karena dibalik cibiran biasanya tersembunyi kesombongan. Orang yang mengolok – ngolok seringnya merasa dirinya lebih baik dan sempurna dari orang lain. Padahal barang siapa membawa kesombongan atau ujub maka ia tak akan diperkenankan masuk surga. Naujjubillahi min Jallik..!

Menggunjing atau membicarakan aib orang. Wah ini juga jangan dianggap sepele, karena jatuhnya bisa ghibah maupun fitnah. Ghibah jika apa yang disampaikan benar, fitnah jika ternyata salah. Bila tak ingin amal yang sudah kita kumpulkan susah payah di ‘debet’ orang lain, maka mulai dari sekarang berhentilah menggunjing.

Banyak mengeluh. Konon perempuan gudangnya keluhan terutama mengeluhkan pasangan hidup alias suaminya. Waspadalah…waspadala­h jangan sampai tercecer keluhan mengenai pasangan hidup kita di depan teman atau urusan sepele sekalipun. Sebagai contoh sbb:

” Suami saya orangnya ceroboh…naroh barang suka sembarangan. Sudah gitu malas bangun pagi sekalinya bangun pengennya sudah tersedia kopi! ”

Karena mendengar keluhan menantunya mengenai kondisi perekonomian keluarga tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Hal ini pernah diRiwayatkan Nabi Ibrahim AS akhirnya menyuruh Nabi Ismail menceraikan istrinya. Bagaimanapun seorang istri harus menjaga kehormatan suaminya.

Keluhan istri juga bisa diartikan ia tidak ikhlas dengan keadaan. Mengeluhkan suami sama saja ia tidak ikhlas mendampingi.

Itulah kata Baginda Rasulullah SAW, mengapa banyak wanita jadi penghuni neraka, karena sering berkeluh kesah mengenai suaminya baik soal uang maupun tabiatnya.

Dalam hadits Riwayat Al-Bukhari dikatakan, banyaknya wanita dalam neraka karena mereka kufur terhadap suaminya. Kufur terhadap kebaikan – kebaikannya.

Meskipun suaminya berbuat baik sebanyak apa pun, namun tatkala sedikit saja seorang istri menemukan kekurangannya, yang tidak ia sukai para istri ini dengan mudahnya mengucap,
” Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu. “

Pernahkah terucap demikian?…, kalau pernah berkata seperti itu, buru – buru minta maaf segera kepada istri.

Sifat gampang mencela dan ngata – ngatain orang. Perempuan juga paling jago memberi label jelek pada sesama perempuan. ” Dasar jablay. Sundel bolong…, perusak rumah tangga orang ” dan sederetan cap jelek lainnya. Sss…, awas kebablasan. Ingatlah pepatah mulutmu harimaumu.

Nyinyir dan over penilaian. Nah ini dia penyakit lisan lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan. Bukan karena perfeksionis, tapi dasarnya perempuan memang doyan menilai. ” Makanan di situ nggak enak, Asiiin. Ih amit – amit mampir ke situ lagi”. Tapi ludes juga tuh masuk ke perut.

Apalagi kalau arisan, “ah bu, bajunya ini sudah bagus sayangnya kerudungnya kurang matching..”. Ada saja yang dinilai dan kadang tidak prinsipel.

Basa – basi tapi tak mengenakkan. Menanyakan sesuatu boleh – boleh saja, asal jangan berlebihan dan kadang kala bikin susah orang untuk menjawab. Basa-basi tapi minus empati. Salah satu Contohnya:

” Kapan menikah? Saya nggak sabar nih pengen jadi panitia.” Padahal tahu dia lagi nunggu Jodoh.

Terus lagi, kadang – kadang wanita berkata,

” Kapan punya anak?…, sudah setahun belum isi juga? “

Ditambah lagi kadang kala, karena tidak puas bertanya kembali,

” Kapan nambah anak lagi? Cuma dua mah masih sepi rumah.”

Di tambah lagi, ” Kapan mantu?”

Bla…bla…, bikin pusing kan.

Tidak tahukah kadang basa – basi terkesan sepele bisa membekas dalam pikiran seseorang dan membuatnya stress?. Berempati sajalah dan doakan saja secara diam – diam tak usah menanyakan berulang – ulang kaya siaran iklan bersponsor aja kan.

Menghasut dan manas-manasi teman.

” Bu, jangan biarkan anaknya main sama anaknya si A..dia itu celamitan persis kayak ibunya.”

Kadang juga, menilai orang berlebihan sampai menyinggung,

” Ibu harus segera menurunkan berat badan biar nggak gampang sakit. Tetangga saya kemarin meninggal di usia 45 tahun. Masih muda kan, sakit jantung karena kegemukan.”

Yakin lah, bukannya mengena perkataan kita buat nambah motivasi malah antipati. Kadang ada orang yang dijauhi karena sikap dan ucapannya tidak memberi kenyamanan bagi yang mendengar.

Jadi kesimpulannya, betapa lisan yang tak terjaga akan menjatuhkan seseorang ke dalam neraka sudah sering diingatkan oleh Rasulullah SAW di hadits yang lain.

” Tiada lain yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka itu, hanyalah karena hal – hal yang diucapkan oleh lidah mereka” (HR. Ashhabu ‘s Sunan dan Ahmad)

Lalu bagaimana cara mencegah lisan dari perkataan yang menyakitkan?.

Jawaban tergampang adalah latihan mengendalikan diri dan menjaga Hawa nafsu dalam diri. Jangan berdalih ucapan buruk itu karena karakter (sifat) bawaan, atau kesukuan. Tidak, lisan itu merupakan gambaran karakter seseorang. Karenanya saring – saringlah dulu ucapan sebelum kelepasan. Berfikir sebelum bicara, bukan di balik ngomong dulu baru mikir.

Cara lain adalah mulai berkomitmen untuk tidak berdusta, menggunjing, mencela dan lainnya kepada diri sendiri agar saat berbicara tidak terjadi indikasi menyakiti orang lain. Hal yang juga memungkinkan adalah meninggalkan lingkungan pergaulan yang tidak kondusif.

Banyak di kalangan kita ikutan ghibah, karena teman – teman sekeliling kita biasa demikian, jadi kebawa arus pergaulan dan pertemanan. Tinggalkan pergaulan yang buruk dan bergantilah mencari kawan – kawan yang mendukung kita dalam kebaikan.

Tentunya dengan cara mensiasatinya, karena pada dasarnya kita pun dilarang pilah pilih teman, karena kesombongan atau merasa lebih suci dan lebih pintar.

Dan terakhir, isilah waktu dengan kesibukan yang bermanfaat. Insya Allah dengan banyak beraktivitas positif akan menghindarkan kita dari waktu luang yang kadang sia – sia.

Tangerang, 08 Juni 2016
Penulis: Anthony Ray

Facebook Comments