Ini Pertimbangan UNESCO Tak Jadikan Kota Tua Sebagai Warisan Dunia

UNESCO menolak Kota Tua menjadi kawasan world heritage. Ada sejumlah alasan mengapa UNESCO tak menjadikan Kota Tua Jakarta menjadi warisan dunia, salah satunya reklamasi. Persis seperti yang disampaikan Gubernur DKI Anies Baswedan.

Dalam dokumen yang diperoleh dari website UNESCO, Senin (9/7/2018), sejumlah alasan dikemukan International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) selaku organisasi pemberi rekomendasi ke UNESCO tentang world heritage.

Seperti yang dilansir oleh detik.com pada Senin (08/07/19) Di halaman 95 dalam dokumen itu dijelaskan tentang adanya reklamasi Jakarta yang menghilangkan peran penting 4 pulau di Teluk Jakarta.

“ICOMOS menganggap bahwa bukti fisik yang disimpan di empat pulau tidak mendukung klaim ini dan bahwa sebagai akibat dari reklamasi lahan yang telah dilakukan berkelanjutan di Teluk Jakarta membuat hubungan antara kawasan Kota Tua dan pulau telah hilang. Padahal 4 pulau ini mendukung cerita tentang garis pertama pertahanan Batavia,” tulis dokumen tersebut.

Dijelaskan ICOMOS, 4 pulau ini dulunya merupakan tempat pertama VOC berlabuh, memperbaiki kapal dan kemudian VOC bisa menuju daratan Batavia. Namun kehadiran reklamasi mengubah cerita ini sehingga konsep Kota Tua dianggap belum bisa diterima.

Tidak hanya itu, ada juga normalisasi Kali Besar di Kawasan Kota yang dianggap mengubah orisinalitas Kota Tua. Menurutnya normalisasi Kali Besar menggunakan beton mengubah orisinalitas.

“Misalnya, Kanal Tengah Besar, yang disorot sebagai salah satu fitur utama dari rencana kota VOC, saat ini sedang direnovasi dengan beton di permukaan tanahnya dan dinding kanal dibangun dengan beton,” tulis ICOMOS.

ICOMOS menyarankan, sebaiknya perbaikan atau rehabilitasi kawasan Kota Tua seharusnya didampingi oleh ahli sejarah dan informasi lengkap mengenai kehidupan Kota pada masa Batavia dulu. Sehingga keaslian dari kawasan ini bisa tetap terjaga dan bangunan tetap dalam kondisi baik.

“ICOMOS merekomendasikan khususnya bahwa proyek restorasi dan pembangunan kembali berkelanjutan di Peninggalan abad ke-20 Kota Tua harus dipandu oleh dengan mempertimbangkan secara penuh berbagai sumber informasi keaslian, yang menjadi ciri representasi kesenian khas Kota Tua,” ungkapnya.

Sebelumnya Wakil Gubernur Sandiaga Uno mengakui salah satu penyebabnya adanya reklamasi Teluk Jakarta. Hal yang sama juga disampaikan Gubernur DKI Anies Baswedan.

“Salah satunya itu, karena yang dimasukkan bukan hanya Kota Tua, tapi juga Kepulauan Seribu dan lain-lain. Kan rusak gara-gara reklamasi kemarin,” kata Sandi di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).

“Jadi kalau kemarin ke Kepulauan Seribu banyak sedimentasi yang berubah di sana karena ya, kalau UNESCO kan nggak boleh berubah sama sekali. Waktu kemarin dimasukkan kan submission pertama ini kawasan luas sekali. Saking luasnya, perubahan pulau terbangun salah satunya juga. Kali Besar juga kemarin ternyata revitalisasinya nggak sesuai dengan budaya,” lanjutnya.

(mam/yes)

Facebook Comments
torabika