Bacakan Nota Pembelaan, Tatiana Menangis di Persidangan, Kasus Manipulasi Data

Terdakwa Tatiana menitikan air mata saat membacakan nota pembelaan pada sidang lanjutan perkara pidana yang menjeratnya di pengadilan Negeri Tangerang, Senin (21/5) kemarin.

Tatiana yang sesekali terdiam dan menangis saat membacakan nota pembelaannya menilai adanya unsur perdata yang melatar belakangi perkara tersebut yakni adanya dualisme kepengurusan di koprasi awak garuda.

“Karena konflik dualisme tersebut, waktu itu saya pernah membuat pengunduran diri pada tanggal 17 Februari 2015 dan ditolak pada tanggal 18 Februari dan pada kenyataaanya saya masih mendapatkan perintah dari bapak Asep selaku ketua pengurus KOAPGI pada waktu itu,”kata tatiana sambil sesekali mengusap air matanya.

Ia mengaku kendati Koprasi tersebut tengah dilanda konflik dualisme sampai saat ini pihaknya tidak pernah menerima surat PHK dari siapapun
yang menjadi ketua pengurus KOAPGI.

Ia mengaku, sebagai karyawan ia tunduk perintah untuk membuat laporan kinerja keuangan periode tahun buku 2015 yang pada saat itu ketua pengurus dijabat oleh asep W Adhyana.

“Tidak benar Bapak Away yang meminta mutasi Bank BNI periode agustus 2015, yang meminta adalah bapak asep selaku ketua dan saya meminta sismoyo, setelah itu mutasi saya kirimkan via email kepada bapak Asep selaku ketua, bapak Asram selaku sekretaris, dan Bapak Away yang merupakan pengawas KOAPGI,”paparnya.

Disamping itu ia menampik atas tudingan tidak meberikan askes server koapgi karna pada kenyataannya Asep W Adhyana ketua pengurus yang saat itu menjabat bisa mengaksesnya hanya saja tidak pernah dilakukan oleh Asep.

“waktu kepengurusan yang diketuai bapak Rimond juga tidak pernah meminta hak akses kepada saya, dan pada bulan juli 2015 memang benar saya tidak melakukan serah terima kepada bapak rimond dan hanya memberikan laporan outstanding keuangan karna semua property kantor yang terkait dengan keuangan saya serahkan kepada bapak asep melalui ibu paveta dan memang yang berhak untuk melakukan serah terima adalah antara bapak asep dan rimon bukan saya,”kata tatiana.

Ia menilai tuntutan tersebut terkesan dipaksakan dan kurang masuk diakal lantaran statusnya di Koagi hanya sebatas karyawan bukan pengurus.

“Sejumlah proses pemeriksaan telah terlewati sejak tahap penyidikan di mabes pemberitaan pemberitaan dan fitnah yang sangat luar biasa juga telah saya rasakan,”jelasnya.

Ia mengaku sebelumnya tidak pernah terbesit sedikitpun menghadapi kenyataan harus berurusan dengan hukum yang berlaku lantaran ia menilai apa yang telah dikerjakan telah sesuai dengan tugasnya sebagai karyawan yang patuh terhadap atasan.

“Kehidupan di dalam tahanan tidak pernah terbesit sedikitpun di mata dan kepala saya saat saya menghadapi kenyataan itu pikiran saya langsung tertuju kepada 2 anak dan keluarga saya
, Saya sebagai single parent yang selama ini menghabiskan waktu tenaga berjuang untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi kedua anak saya harus mendapatkan perlakuan yang sangat adil berada dalam tahanan untuk sesuatu yang tidak pernah saya lakukan dan belum dapat dibuktikan
,”tukasnya.

Sebelumnya tersangka kasus Manipulasi Data Koperasi Awak Pesawat Garuda Indonesia (Koapgi) Tatiana dan Siswoyo masing masing dituntut satu setengah tahun (18 bulan) penjara oleh Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Tangerang.

Dalam tuntutannya Jaksa meminta kepada Ketua Majelis Hakim untuk menjatuhkan hukuman kepada tersangka Tatiana yang saat itu menjabat sebagai Manager Keuangan dan Siswoyo mantan Manager IT di Koapgi.
(mam/yes)

Facebook Comments
torabika